Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Maret 2011

Pemprov Banten Tak Mau Ketinggalan Melarang Ahmadiyah Bergiat di Wilayahnya

Jakarta-Setelah Jawa Barat, Pemprov (Pemerintah Provinsi) Banten tak mau ketinggalan untuk melarang JAI  (Jamaah Ahmadiyah Indonesia) melakukan aktivitas diwilayahnya. “Pemprov Banten mengeluarkan Peraturan Gubernur Banten No 5 Tahun 2011 tentang larangan aktivitas anggota Jamaah Ahmadiyah di wilayah Banten,” ucap Sekretaris Daerah Provinsi Banten Muhadi di Serang, Banten,kemarin.
Dalam Pergub tersebut dinyatakan, JAI dilarang menyebarkan ajaran Ahmadiyah secara lisan maupun tulisan, baik langsung maupun tidak langsung; dilarang memasang papan dan sejenisnya di tempat yang bisa diketahui oleh umum; dan dilarang memasang atribut jamaah Ahmadiyah di tempat yang diketahui oleh umum di wilayah Provinsi Banten.
“Kami akan segera melakukan sosialisasi Pergub ini agar segera diketahui dan dipahami oleh masyarakat di wilayah Banten,” kata Muhadi. Sebelumnya Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah mengatakan sudah menandatangani peraturan gubernur (pergub) tentang larangan aktivitas anggota jamaah Ahmadiyah di Provinsi Banten, Selasa (1/3) malam.
Alasan pelarangan ini hampir serupa, seperti baik di Jawa Timur maupun di Jawa Barat, yakni demi keamanan dan ketertiban.[si/p3monline]

Read more…

Setelah Jawa Timur, Jawa Barat Juga Melarang Ahmadiyah

Larangan terhadap Ahmadiyah terus menyebar di berbagai daerah. Setelah Gubernur Jawa Timur melarang Ahmadiyah beraktifitas di wilayahnya, dengan ditetapkannya SK Nomor 188/94/KPTS/013/2011, dan belaku sejak 28/02/2011, giliran Jawa Barat melakukan hal serupa.
Gubernur Jawa Barat (Jabar)Ahmad Heryawan resmi mengeluarkan peraturan pelarangan aktivitas Ahmadiyah di wilayahnya. Peraturan ini resmi dikeluarkan setelah orang nomer satu di Jabar tersebut bertemu sejumlah Muspida.
Meski produk hukumnya belum dikeluarkan, tapi risalah pergub yang mengatur pelarangan aktifitas Ahmadiah di wilayah Jabar ini, ditandatangani Gubernur Ahmad Heryawan di Gedung Pakuan sekitar pukul 21.30 WIB.
"Risalah pergub sudah ditandatangani Gubernur. Barusan, seluruh unsur muspida membahas pointer isi Pergub ini," ujar Kepala Biro Humas dan protokol Ruddy Gandakusumah.
Lebih lanjut Ruddy mengatakan bahwa substansi peraturan itu berkaitan bukan dengan ajaran Ahmadiyah, tapi dengan kegiatannya agar tidak menyalahi Surat Keputusan Bersama dan 12 butir kesepakatan antara pemerintah dan Jemaat Ahmadiyah. "Risalah sudah ditandatangani," kata Rudy.
Pertemuan itu digelar gubernur bersama Wakilnya Dede Yusuf, Ketua DPRD Jawa Barat Irfan Suryanagara, Kapolda Jawa Barat Irjen Suparni Parto, Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat Sugiyanto, Pangdam III Siliwangi Mayjen Moeldoko, Ketua MUI Jawa Barat Hafidz Utsman, dan sejumlah tokoh agama. Pertemuan berlangsung selama hampir dua jam.
Pertemuan dipimpin oleh Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, dihadiri Wakil Gubernur Dede Yusuf, Kapolda Jabar Irjen Pol Suparni Parto, ketua DPRD Irfan Suryanagara, kanwil Depag Saeroji, Kajati Sugiyanto, Pangdam Mayjen TNI Moeldoko, Ketua MUI Hafidz Usman.[TI/TN/PKOZ]

Read more…

Ketua PBNU Klarifikasi Tidak Minta Ahmadiyah Dibubarkan

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tidak minta Ahmadiyah dibubarkan. Sebelumnya, dalam running text di TV One, muncul statemen bahwa PBNU minta pemerintah agar membubarkan Ahmadiyah. Selasa kemarin (1/3) ketua PBNU, Said Agil Siraj mengklarifikasi hal itu dan membantah pemberitaan agar Ahmadiyah dibubarkan.
"Saya terkejut melihat berita itu. Saya tidak pernah  mengeluarkan statemen itu," tegas Said Selasa, (1/3/2011) malam.
"Pembubaran Ahmadiyah adalah domain Pemerintah dan NU tidak berada dalam wilayah itu," lanjutnya.
Bagi NU, pandangan yang menganggap ada nabi setelah Muhammad SAW tidak sejalan dengan akidah NU yaitu ahlussunnah wal jamaah. Namun PBNU menegaskan bahwa perbedaan keyakinan tidak bisa menjadi pembenar untuk melakukan tindakan kekerasan atau kesewenang-wenangan.
"Allah dan Rasulnya menghendaki bagi kelompok mayoritas harus tetap rendah hati, sehingga bisa menjadi pelindung bagi kelompok minoritas yang lain," jelasnya.
NU mendesak pemerintah untuk bersungguh-sungguh dalam menunaikan kewajibannya, yaitu menegakkan hukum serta memberikan perlindungan kepada segenap warga negara tanpa membedakan agama dan keyakinannya.

(MI/OZ)

Read more…

Sabtu, 01 Desember 1990

Mengapa Toleransi Beragama?

Perdamaian, RimanewsDotCom

Sebuah seminar oleh Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) mencoba menjawab bisakah tercipta kerukunan beragama tanpa pemeluknya masing-masing mengkompromikan iman.
Mendengar Kerajaan Romawi Timur yang beragama Kristen itu dikalahkan Kerajaan Persia yang menyembah api, kaum muslimin bersedih. Lalu turunlah wahyu yang menggembirakan, yang menyatakan bahwa sembilan tahun kemudian Kerajaan Bizantium itu aka menang dan kaum muslimin akan bergembira. Wahyu yang tertera dalam surat Ar-Rum 1-4 ini terbukti kebenarannya pada 625 M. 
Kisah ini sengaja ditampilkan Dr. M. Quraish Shihab pada seminar yang diadakan P3M pada Rabu, 28/11/1990, dengan maksud menunjukkan bahwa sejak awal sudah terjalin hubungan yang mendalam atara Islam dan Kristen. "Hubungan ini bukan sekedar basa-basi, melainkan sudah merasuk ke dalam jiwa. Apalagi kejadiannya diabadikan dalam al-Qur'an." kata dosen Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, itu.
Inilah seminar yang dihadiri oleh para ahli di bidang keagamaan, budaya, politik, dan pemerintahan ini, yang antara lain mencoba menjawab pertanyaan: dapatkah para penganu agama yang tetap berpegang pada kemutlakan ajaran agamanya hidup rukun dalam satu masyarakat dan negara? Atau seperti yang disampaikan oleh Frans Magnis Suseno, dosen filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, bisakah penganut agama berdamai dan saling meghormati, tanpa mengkompromikan iman dan keyakinan mereka?
Persoalan ini jelas merupakan masalah bagi Indonesia, negeri yang memiliki lima agama: Islam, Protestan, Katolik, Hindu, dan Budha.
Menurut Quraish Shihab, salah satu hal yang pokok untuk membina kerukunan beragama adalah dihindarkannya sikap menyamaratakan. Kata ahli tafsir Indonesia ini, para ahli kitab Yahudi dan Nasrani membedak-bedakan pendapat dan sikapnya. Ada kelompok yang objektif, mereka itulah yang dibicarakan al-Qur'an dengan pujian.Namun ada juga kelompok Yahudi dan Nasrani yang bersikap tidak bersahabat. Jadi, kata Quraish Shihab lebih lanjut, "jangan mengangkat satu ayat yang berbicara hanya tentang kelompok tertentu menjadi sikap umum semua penganut agama tersebut."
Kebanyakan pemeluk agama manapun memang tidak memahami ajaran agama mereka secara utuh. Maka, mereka tidak bisa membedakan mana yang absolut dan mana yang relatif dari ajaran agama tersebut. Kelemahan seperti ini, seperti dikatakan Quraish, juga terdapat pada umat beragama yang lain. Di situlah para pemuka bisa mengambil peran : menjelaskan bagaimana ajaran agama masing-masing melihat soal hubungan antar agama.
Bila bertahun-tahun masalah ini ulang dibicarakan, tetapi kemudian muncul juga masalah, itu hanya membuktikan soal toleransi beragama bukan soal yang mudah. Alam agama manapun selalu ada mereka yang lapang dada dan mereka yang fanatik. Untuk itu saran KH. Ali Yafie, Wakil Rais Am Nahdlatul Ulama, tiap agama perlu meningkatkan wawasan agama umatnya.
Namun,mudah mengataka dan sulit melaksanakan berlaku pula untuk masalah ini. Pihak-pihak yang terlibat dalam upaya meluaskan wawasan umat, dari agama manapun, mengakui sulitnya menyampaikan wawasan itu. Seperti yang dikatakan Victor Tanja, pendeta Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB), "Jangankan Islam yang mayoritas, kami yang minoritas ini, sulit sekali memberikan pengertian (hubungan antar agama) kepada mereka yang menganut garis keras."
Tidak semua orang bisa menerima bahwa "ajaran agama yang diberikan Allah bukan untuk pembenaran diri atau kelompok, yang nantinya bermuara pada sikap fanatisme beragama, " kata Victor Tanja dengan tegas. Tak berarti Victor Tanja ingin mengatakan bahwa semua agama sama. Penyamaan agama itu bisa berbahaya karena berarti mengkompromikan akidah, yang tentunya tidak dibenarkan oleh agama mana pun.
Dalam Islam sebenarnya Nabi Muhammad SAW., sendiri sudah memberikan teladan. Misalnya terhadap tamu-tamu beliau dari kalangan Nasrani yang berkunjung ke Madinah, Nabi pernah mempersilahkan tamunya yang ingin melakukan kebaktian menjalankanya di Masjid. Kisah ini diceritakan oleh Ibn Qoyyim, ulama besar murid Ibn Taimiyah yang hidup pada abad ke 14. Tentu Nabi melakukannya hal tersebut karena memang di sekitar kediaman Nabi tidak ada tempat ibadah bagi kaum Nasrani.
Bila sering toleransi terlupakan, pada hakekatnya bersikap toleran tidak mudah. Soalnya dalam toleransi terkandung sikap yang oleh Frans Magnis Suseno dijelaskan sebagai "kesediaan menerima dan menghormati orang yang berkeyakinan lain dengan kita meski hal itu tidak kita setujui."
Memang ada orang yang memutlakkan jatuhnya siksaan Tuhan pada orang selain golongannya. Orang seperti ini seakan-akan ingin membatasi rahmat Tuhan. "Padahal Tuhan sendiri berkata, "RahmatKu mengalahkan amarah-Ku," kata Quraish Shihab mengutip hadits Qudsi [Julizar Kasri, Wahyu Muryadi]

Sumber: Tempo, 1 Desember 1990)

Read more…


REVOLUSI DUNIA TRAINING




PALING DAHSYAT DI TAHUN 2012


TEMUKAN RAHASIANYA



Bagaimana hanya dalam waktu singkat 5 s/d 50 Menit anda dapat menghancurkan semua masalah Emosi Negatif & Fisik anda sehingga dengan mudah dan cepat anda dapat kembali ke PEAK PERFORMANCE (Kinerja Unggul) anda & menemukan kembali KEBAHAGIAAN HIDUP anda, sehingga menjadikan anda individu yang HOLISTIC PERSON dalam keluarga, pekerjaan, organisasi, bisnis, olah raga dan seni. SUKSES DUNIA MAUPUN AKHIRAT

DAN

PELUANG USAHA YANG SANGAT

REVOLUSIONER


POTENSI PENDAPATAN PULUHAN JUTA PER MINGGU



SERTA POTENSI REWARD MILYARAN RUPIAH



Kami perkenalkan :


TRAINING

SEFT TOTAL SOLUTION



TRAINING KEBERUNTUNGAN